Kematian Jantung Mendadak

Posted on February 1, 2016

Kematian jantung mendadak pada usia muda memang jarang terjadi.Di dalam SAF (Singapore Army Forces) pada tahun 1996–2005, terdapat 19 kasus kematian jantung mendadak dan 5 diantaranya terjadi selama pelatihan. Tidak ada angka resmi yang tersedia untuk olahraga kompetitif di Singapura. Angka kejadian pada atlet di sekolah menengah atas di Amerika Serikat adalah 1: 100 000 – 1 : 200 000.

Berdasarkan penelitian otopsi di Swedia,penyebab paling umum setelah dilakukan biopsi adalah kardiomiopati hipertrofik (HOCM) (13% -25%), aritmia (13%), miokarditis (9%), emboli paru (7%), Sindrom Long QT (4% ), pelebaran otot jantung (4%) dan anomali koroner (2%). Dari mereka dengan struktur jantung normal (16%) penyebabnya adalah tidak menentu. Penyakit jantung iskemik prematur IHD (25%) terlihat pada mereka yang berusia lebih dari 25 tahun. Penebalan otot jantung memiliki prevalensi rendah 0,07% – 0,1% pada individu muda kulit putih, tetapi merupakan penyebab paling umum kematian jantung mendadak.
EKG 12-lead merupakan alat yang sensitif dan baik untuk mengidentifikasi dan menstratifikasi resiko pada atlet. Alat ini dapat menunjukkan hasil abnormal sampai dengan 95 % pada pasien kardiomiopati dan mayoritas ARVD (displasia aritmogenik ventrikel kanan). Alat ini dapat medeteksi kondisi berbahaya seperti sindrom Long QT, penyakit Lenegre, sindrom Brugada, dan Wolff-Parkinson-White Syndromeyang merupakan 60% dari penyebab kematian pada atlet kompetitif muda.

The European Society of Cardiology (ESC), Japan and the International Olympic Committee (IOC),serta liga olahraga profesional Amerika Serikat dan internasional, mendukung penggunaan EKG pada pemeriksaan awal atlet yang berpartisipasi. ESC dan IOC merekomendasikan pemeriksaan tersebut dengan detail riwayat kesehatan, fisik dan pemeriksaan EKG mulai dari usia 12 dan diulang setiap 2 tahun. Italia adalah satu-satunya negara di dunia yang secara rutin menggunakan EKG untuk pemeriksaan awal atlet yang berpartisipasidalam olahraga kompetitif dan program ini dimulai sejak atlet tersebut berusia 12 tahun. Di AS, American Heart Association (AHA) pada tahun 2007 menegaskan kembali menentang rekomendasipemeriksaan EKG universal,prevalensi rendah penyakit, sensitivitasnya rendah, tingginyahasil positif palsu, efektivitas biaya rendah, dan kurangnya dokter untuk menginterpretasikan hasil. Sebaliknya, AHA merekomendasikan untuk menanyakan riwayatkesehatan pribadi dan keluarga secara detail dan pemeriksaan fisik saja, lalu pemeriksaan kesehatan dilakukan pada orang-orang muda yang memiliki risiko lebih tinggi.
Di Singapura, setiap SAF, baik tentara atau yang reguler, pemeriksaan kesehatan di SAF Medical Classification Centre berdasarkan pra-pendaftaran. Pemeriksaan medis meliputi elektro kardiogram istirahat (atau EKG), X-ray dada, tes darah dan tes urine, dan pemeriksaan fisik. Individu dengan riwayat kematian dalam keluarga dekat sebelum 40 tahun, atau kematian mendadak dapat disebut dirujuk kepada dokter spesialis untuk penilaian dan penyelidikan tambahan. Untuk reguler, tes kesehatan dilakukan setiap dua tahun dari usia 25 sampai usia 40 dan setiap tahun untuk usia diatas 40 tahun.

Rekomendasi IOC didasarkan pada studi Italia 25 tahun, yang diluncurkan pada tahun 1983, di mana semua individu berusia 12 -35 tahun yang terlibat dalam tim olahraga, mendapatkan pemeriksaan medis tahunan. Ini termasuk detail riwayat, pemeriksaan fisik dan EKG.
Studi observasional oleh Dr. Domenico Corrado (University of Padua Medical School, Italia) terhadap 42.386 atlet muda diterbitkan dalam Journal of American Medical Association edisi 4 Oktober 2006 melaporkan bahwa pengenalan program pemeriksaan awal atlet yang berpartisipasi termasuk tes EKG untuk atlet muda di Italia telah menurunkan hampir 90% nilai kematian jantung mendadak di satu wilayah negara dari 3,6 per 100.000 orang pada tahun 1979 – 1980menjadi 0,4 per 100.000 orang pada tahun 2003 – 2004(kecenderungan nilai p<0,001), sedangkan kejadian kematian mendadak pada populasi nonatlet tidak berubah secara signifikan pada waktu itu. Sebagian besar angka kematian berkurang disebabkan menurunnya kasus kematian mendadak dari kardiomiopati. Dalam studi ini, kondisipaling umum yang menyebabkan dibatalkan studi ini adalah abnormalnya ritme jantung (39%), hipertensi (27%), katup jantung (21%) dan HOCM (3,6%). Penelitian ini mengarah pada usulan menggunakan EKG 12 lead oleh IOC dan ESC pada tahun 2005. Rekomendasi untuk penggunaan Echocardiograms dan elektrokardiogram latihan tidak jelas. EKGlatihan dapat mendeteksikelainanjantungdi antaraatletyangterlewatkanolehEKG istirahatataubaselineEKG. Hasil ini berdasarkanpadasebuah studi yang dilaporkansecara onlinepada 3 Juli 2008diBMJolehDr. FrancescoSofi(University ofFlorence, Italia). Studiiniunik karena dapatmengidentifikasipopulasiatletyang lebih tua yang mempunyairesikopenyakitjantungkoroner. Mayoritasdari merekadenganhasil EKG latihan yang abnormal mempunyai hasil EKG istirahat yang normal. Dan yang terpenting, sebagian besar dari merekaakandiabaikandari sejarahkesehatan danpemeriksaanfisiksaja. Untukahli jantung, identifikasikelainanjantungpadaatletmerupakan salah satuaspekyang lebihkomplekspada praktek klinis. Pedoman Bethesdayang ke-36dapatmemberikanrekomendasi berdasarkankonsensussaat initetapikeputusanuntuksetiap atletharusdisesuaikandengan tiapindividu. Hal yangpentingadalahperencanaan daruratyang komprehensif untukmemastikanresponyang efisienuntukkematianjantungmendadak. Memilikidefibrillatorhanyamenyelesaikansetengahdari permasalahan. Sebuahrencanatindakandaruratterstruktursangat penting. InimelibatkanaktivasiawalEMS, CPRdini, defibrilasiawaldantransisiawaluntukmendukungkehidupan jantung.

Map

Lim Ing Haan Cardiology Clinic
3 Mount Elizabeth #04-02
Singapore 228510

Waktu Operasi Klinik
Senin-Jumat : 8.30am - 5.00pm
Sabtu : 8.30am - 12.30pm